"Masukkan Kata Kunci"

Senin, 07 Desember 2009

Patah Hati No Way


Putus cinta. Dua kata tersebut seolah tabu diucapkan oleh sepasang sejoli yang sedang memadu kasih. Maklum, di saat benih-benih cinta sedang menggelora di antara mereka, seolah tak ingin terpisahkan satu dengan lainnya. Namun tak selamanya kata-kata cinta dan kasih terus bergema.


Pasangan yang paling mesra sekalipun bisa mengalami putus cinta. Apakah ia baru merajut kasih seumur jagung atau sudah puluhan tahun, saat kata “putus” terlontar tentu tidak diharapkan terjadi.

Rasa kecewa, sakit hati, sedih, terkejut, bersalah, campur aduk menjadi satu.

Menangis sah-sah saja dilakukan. Biasanya korban putus cinta akan terus mencari alasan mengapa hubungannya kandas dan mulai menyalahkan dirinya sendiri.


Pertanyaan seperti “Mungkin aku terlalu keras padanya saat membatalkan makan malam dengan orangtuaku” atau “Seharusnya aku tidak berteriak padanya saat dia terlambat datang menjemputku” dan beribu pertanyaan lainnya.


Psikoterapis Caroline Presno menyebut pemikiran-pemikiran negatif tersebut akan terus bermunculan bila si empunya terus menerus merasa bersalah. “Duduklah dengan tenang. Ambil napas dan hentikan pikiran-pikiran negatif tersebut saat ini juga. Ini bukan waktunya merefleksikan kembali hubungan Anda. Sayangilah diri Anda sendiri,” tegas Caroline.


Perasaan sayang memang tak bisa pupus begitu saja, meski kata putus telah diucapkan. Toh ini tidak berarti segala sesuatu yang terkait kata ‘teman’ dengan mantan kekasih tetap dijalani. “Anda akan sulit melangkah bila satu kaki tetap berada di masa lalu. Sudah saatnya mencari teman baru sebanyak-banyaknya, juga mencari dukungan dari teman-teman yang lain,” saran Caroline.


Saat hubungan berakhir, lebih gampang kiranya memikirkan hal-hal paling indah di masa pacaran, dibanding saat-saat mengecewakan. Ini hanyalah membuat angan-angan terus berkembang, padahal hubungan telah berakhir. Mulailah melihat segala sesuatunya dengan lebih objektif. Dan ingatkan diri sendiri mengenai perjuangan dan rasa frustrasi yang baru saja dilalui.


Pascaputus cinta, beberapa orang mungkin akan menyarankan untuk membenahi diri dan melupakan rencana berkencan lagi untuk sementara. “Tak ada masalah bila Anda nyaman dengan keadaan ini. Namun sebaiknya Anda segera ‘kembali’ dari rasa sedih yang berkepanjangan. Berkencan dengan seseorang bisa menjadi satu hal yang dibutuhkan untuk menambah spirit Anda,” ujar Caroline.


Satu hal yang pasti, jangan pernah merasa kehilangan harapan. Maklum, setelah putus cinta, sangat mudah mengatakan pada diri sendiri berbagai rasa kecewa. Misalnya berpikir tidak akan menemukan orang lain yang sesempurna mantan. Seharusnya hal ini tidak dilakukan. Menurut Caroline, jika tidak pantang menyerah dan terus berusaha, Anda akan menemukan apa yang dicari. Salah satunya adalah kekasih baru yang lebih baik dari sebelumnya.


Terdepak vs PendepakTentu ada sekelumit pertanyaan dalam benak, lebih baik menjadi si pendepak atau yang terdepak dalam hubungan asmara. Sesungguhkan yang satu tidak lebih baik dari yang lain, mengingat putus cinta selalu berakhir dengan perasaan bersalah dan depresi.
Berikut ada lima pertanyaan menurut Elina Furman, pengarang buku Kiss and Run: The Single, Picky, and Indecisive Girl’s Guide to Overcoming Her Fear of Commitment, yang perlu ditanyakan pada diri sendiri sebelum mendepak pasangan:


1. Adakah perubahan besar dalam hidup saya? Perubahan karier, pindah tempat tinggal hingga sakit bisa menjadi pencetus masalah dalam sebuah hubungan. Jika Anda merasa stres mengenai suatu masalah, lebih baik mencoba mengatasinya, dan jangan selalu menyalahkan pasangan.


2. Apa ukuran kebahagiaan saya? Merasa 100 persen bahagia dengan pasangan merupakan konsep sempurna. Namun dalam teorinya, ekspektasi ini tidak selalu tercapai. Strategi yang lebih baik adalah mengadopsinya sebanyak 80 persen. Pertanyaan “Apakah saya 80 persen puas dengan pasangan dari masa pacaran?” perlu diajukan dalam diri sendiri. Bila jawabannya tidak, Anda bisa saja berpikir untuk pindah ke lain hati.


3. Apakah dia kasar? Tindakan kasar bisa berawal dari apapun. Misalnya kekerasan fisik seperti memukul, menampar hingga mendorong. Atau kekerasan verbal separti hinaan dan cacian. Yang paling sulit diidentifikasi adalah kekerasan psikologis. Bila pasangan Anda menunjukkan tanda-tanda kekerasan seperti di atas, lebih baik tinggalkan dia.


4. Apakah saya mengekspresikan rasa frustasi saya? Banyak yang berpikir, bila pasangan telah klop dengan diri kita, ia akan mengerti segala kebutuhan tanpa perlu berbicara padanya. Itu tidak benar, mengingat komunikasi yang baik harus dilakukan dalam setiap hubungan. Jadi sebelum Anda memecat pasangan, diskusikan keraguan Anda dan berikan kesempatan padanya untuk berubah.


5. Apakah saya mampu mengatasinya? Apapun yang terjadi dalam hubungan percintaan Anda, hanya ada satu faktor yang bisa menyebabkan kandas, yaitu keinginan untuk mempertahankan hubungan. Jika Anda dan pasangan tidak berusaha memperbaiki kualitas hubungan atau kehidupan bersama, hanya ada sedikit harapan untuk masa depan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar